Pengembangan Inkubasi Bisnis untuk Produk Unggulan Perdesaan

produk unggulan perdesaan

Manusia ditakdirkan untuk mampu meraih kesejahteraan diri dengan mengoptimalkan kemampuan dan modal yang dikuasainya. Kesejahteraan ekonomi diperoleh melalui keuntungan dari hasil usaha, yang selanjutnya dikembangkan untuk menabung atau memperkuat modal usaha (investasi).

Sumodiningrat (2016) menegaskan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk Tuhan dibekali kemampuan bertahan hidup sehingga setiap manusia sejatinya adalah wirausahawan, Setiap orang pasti menghasilkan produk (one person one product/OPOP). Dus, setiap produk yang dihasilkan manusia merupakan sebuah kreativitas yang lahir dari kapasitas dasar manusia sebagai makhluk Tuhan.

Di sisi lain manusia sebagai makhluk sosial memiliki hubungan untuk saling membantu, tolong menolong, bekerjasama membangun kesejahteraan secara kolektif dalam komunitas/kelompok sehingga model inilah yang menciptakan komunitas atau kelompok yang melahirkan produk (one community one product atau OCOP). Kekuatan kolektif kelompok/komunitas mengejawantahkan kekuatan ekonomi kerakyatan membangun kekuatan kolektif dengan berkomunitas. Dalam konteks Community Driven Development (CDD), hal ini sudah dibangun melalui program-program pemberdayaan pemerintah dengan menggerakan kekuatan ekonomi berbasis kelompok maupun komunitas dengan sistem kooperasi yang pada dasarnya bertujuan untuk menolong dirinya sendiri (self help) dalam persaingan ekonomi maupun membangun kekuatan ekonomi secara kolektif.

Lahirnya Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa, membawa spirit baru kehidupan di desa. Desa menjadi ruang kehidupan dan sumber penghidupan warga desa untuk mengembangkan kesejahteraan individu maupun masyarakat desa. Azas rekognisi dan subsidiaritas yang dimiliki oleh desa merupakan kekuatan baru dalam mendorong pembangunan nasional. Desa, dengan segala kekuatan kewenangannya, dapat mengelola potensi dan sumberdaya ekonomi di wilayahya secara mandiri dan berdaulat.

Atas dasar itulah, desa dapat mengembangkan kekuatan dirinya dengan meningkatkan kualitas produk unggulan desa (prudes) dengan prinsip one village one product (OVOP). UU Desa juga memberi kewenangan pada desa untuk membangun sistem dan kelembagaan ekonomi secara profesional untuk mengelola potensi dan sumberdaya desa. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) merupakan lembaga ekonomi desa yang musti dikelola secara profesional, mandiri, berdaulat, adil dan berorientasi untuk kesejahteraan sosial masyarakat desa.

BUM Desa dapat membentuk unit-unit usaha yang bekerja layaknya sebuah perusahaan yang berorientasi profit. Di sinilah lahir istilah one village one company (OVOC) sebagai bentuk intermediasi kekuatan-kekuatan usaha ekonomi lokal di desa. Unit bisnis BUMDes merupakan bentuk OVOC dalam menggerakkan roda ekonomi desa dengan mengoptimalkan potensi desa bermodal gerakan wirausaha desa sehingga desa mampu mengoptimalkan seluruh potensi sumber dayanya untuk menggerakkan perekonomian maupun menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat usia produktif. Pada akhirnya, BUM Desa mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

Gerakan Desa Wirausaha dapat diawali dengan pengembangan dan penguatan BUM Desa sehingga mampu mengurangi angka urbanisasi dan pengangguran. Desa wirausaha (rural entrepreneurship) merupakan dasar untuk mewujudkan gerakan desa mandiri, termasuk strategi untuk mewujudkan skala prioritas Kementerian Desa PDTT untuk mengembangkan produk unggulan desa (one village one product). Untuk mendorong nilai kompetitif OVOP, Program Inkubasi Bisnis, Produksi, dan Pemasaran diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan kualitas produk/jasa serta perluasan dan penguatan akses pasar produk desa.

Sutardjo Ps, Dewan Pembina Yayasan Gedhe Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *