Kue Lezat Itu Bernama Industri Kreatif

Kontribusi industri kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) semakin signifikan. Dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat, ambil contoh, pada 2015 sumbangan industri kreatif terhadap PDB mencapai 6,3 prosen atau Rp 104,73 triliun.

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor kerajinan, laju pertumbuhan ekspornya sebesar 11,81 prosen. Selanjutnya, produk fashion mencapai pertumbuhan 7,12 prosen, disusul periklanan sebesar 6,02 prosen dan arsitektur 5,59 prosen.

Desa dapat mengembangkan potensi dan produk di desa menjadi industri kreatif yang kuat. Beragam produk kreatif, seperti kerajinan, pariwisata, seni pertunjukkan, seni musik, dan perfilman, tumbuh sumbur di desa-desa.

Saat ini, kondisi industri kreatif di desa seperti bernafas dalam lumpur. Hidup segan, mati tak mau. Sebagian besar industri kreatif berupa industri rumahan dikelola sebagai kerja sampingan. Denyut roda industri kreatif sangat ditentukan oleh order musiman dari pihak ketiga.

Untuk mendorong pengembangan idustri kreatif di desa, kita dapat memulainya dengan melakukan pemetaan potensi industri kreatif di tingkat desa. Pemetaan potensi kreatif dapat menjadi dokumen profil desa kreatif.

Profil desa kreatif berisi pendefinisian industri ala desa, ruang lingkup industri kreatif, basis data potensi industri kreatif, dan strategi pengembangan industri kreatif.

Saat ini, sebagian besar desa belum memiliki strategi yang tepat dalam pengembangan potensi tersebut. Orientasi pemerintah desa masih fokus pada pembangunan infrastruktur fisik di desa. Untuk itu, pemerintah desa dapat memanfaatkan dokumen di atas dalam perencanaan pembangunan dan pemberdayaan desa.

Patut dicatat, industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak sehingga bila sektor tersebut berkembang di desa maka jumlah pengangguran di kawasan perdesaan dapat berkurang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *