Aktualisasi Diri Ala Maslow

Abraham Maslow dikenal sebagai pencetus Mazhab Ketiga (Third Force) dalam studi psikologi. Dia mampu membangun fondasi pendekatan humanistik di antara dia aliran besar dalam psikologi, yaitu Freudian dan Behaviorme.

Abraham Maslow lahir pada 1 April 1908 dan meninggal pada 8 Juni 1970 (62 tahun). Dia menyumbang banyak inspirasi dalam teori kepribadian. Pelopor aliran psikologi humanistik ini, dikenal dengan teorinya tentang hierarki kebutuhan manusia.

Goble (1993:47) menjelaskan Maslow berusaha mentelaah segi-segi yang bermanfaat dan bermakna dari keduanya untuk mempelajari beragam kemampuan dan karakter dari orang-orang hebat yang lahir di dunia. Maslow menyebutnya sebagai orang-orang hebat itu dengan istilah the growing tip–pucuk yang tumbuh mekar.

Maslow mendasari kajiannya dengan studi tentang aktualisasi diri. Awalnya, maslow mempelajari karakter dan kepribadian dua profesor yang dia gandrungi saat dia duduk di bangku kuliah. Amazing, hasilnya kedua tokoh itu memiliki banyak kesamaan secara kepribadian. Berangkat dari premis itu, Maslow mengembangkan studinya pada populasi yang lebih luas dan lebih fokus pada topik aktualisasi diri.

Mengapa Maslow memilih sampel studinya adalah orang-orang “hebat”? Jawabnya sederhana, bila Anda ingin tahu berapa cepat seseorang dapat lari menempu satu mil, jangan mengamati pelari yang memiliki kecepatan rata-rata, tapi amatilah pelari dengan kecepatan luar biasa. Kelompok itulah yang mampu menjelaskan kecepatan berlari manusia, karena mereka adalah orang-orang yang teraktualisasikan dirinya.

Orang yang teraktualisasikan dirinya memiliki kemampuan untuk melihat hidup secara jernih. Mereka melihat hidup apa adanya, bukan menurut keinginan mereka. Karena itu, mereka memiliki pengertian yang lebih jelas tentang yang benar dan yang salah. Mereka juga lebih jitu dalam meramalkan peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi. Mereka mampu menembus dan melihat realitas-realitas tersembunyi secara lebih gesit dan lebih tepat dibanding rata-rata orang.

Meski demikian, orang yang teraktualisasikan dirinya memiliki sifat rendah hati dan mampu mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran. Mereka mau mengakui bahwa mereka tidak tahu segala-galanya sehingga orang lain akan mampu mengajari mereka sesuatu. Mereka memiliki sifat lugu pada anak-anak yang mampu mendengarkan tanpa prakonsepsi atau penilai sebelumnya. Di sinilah kreativitas lahir akibat fleksibilitas, spontanitas, keberanian, berani membuat kesalahan, keterbukaan dan kerendahan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *